Senin, 25 Oktober 2010

넌 언제나 (You Always)


Hangul:

[믹키] I never thought that I could love someone.
As I walk through your door
Together as one You never know

[최강] 하루하루 늘어갈 뿐이야
널 향한 그리움은 아픔은 늘 새롭지만
넌 너의 길을 가네
[믹키] 원한다면 기다릴 수 있어 난 그대로인거야
떠난 건 너 혼자였으니 그대로 돌아오면 돼

[영웅] 내 잘못을 탓하는 것이라면
돌아온 후에도 늦지 않아 아직 시간이 있는데

*[All] 네가 떠난 그 모습 그대로 머물러 있을거야
더 이상 거짓으로 나를 위로하고 싶진 않아
처음으로 사랑을 알았어 다시 널 찾을 꺼야
이제야 너를 위해 내가 살아있다는 걸 느꼈어

[유노] 원한다면 기다릴 수 있어 난 그대로인거야
떠난 건 너 혼자였으니 그대로 돌아오면 돼

[시아] 내 잘못을 탓하는 것이라면
돌아온 후에도 늦지 않아 아직 시간이 있는데

*Repeat

(Rap)
[믹키] 조용해 마치 물에 잠겨버린 세상처럼
기나긴 모험을 하고 있어
정말 나도 애써 지워지지 않는 너의 모습을
그리고 있어 부르고 있어
[유노] 아직 너를 사랑한단 이유만으로
같은 공간 속에 살고 있는 이유만으로
넌 언제나 다른 곳만 바라보는걸 My girl
너를 기다리고 있었다는 걸

*Repeat

Korea, TVXQ!, dan cinta gw tertambat di sana

Wahahahahaha,....
udah lama yah gak posting ke blog ini. gw rasa udah berjamur saking kelamaannya gak diupdate LOLs.

Oke updatean pertama adalah, gw resmi bertransformasi jadi fangirl ke sebuah fanbase terbesar sepanjang abad*lebay bernama Cassiopeia, ini fanbase paling keren*sombong, yang pernah gw temuin. Selain Idolnya keren, fansnya juga*apaseh. Lalu, dengan begitu secara resmi gw menjadi jatuh cinta sama Korea. Gw bermaksud melanjutkan study s1 ke sana, lewat KGSP 2011. Nah kalo udah ke sana gw akan minta naturalisasi kewarganegaraan deh*ngaco.


Btw, elo pasti kagak ngeh kan dengan apa itu Cassiopeia dan TVXQ! Serta kenapa ini tulisan diwarnain merah? udah cekidot ke TKP!

  • TVXQ!
Apaan sih ini? Okeh gw kasih tau yah para awamers KPOP. TVXQ! itu adalah akronim dari 東方神起 (Tong Vfang Xien Qi), artinya Dewa-dewa yang muncul dari timur. Selain itu dikenal juga dengan nama DBSK(동방신기) di Korea ato Tohoshinki di Jepang.
Mereka adalah Boyband asal Korea Selatan besutan SM entertainment. Terdiri dari 5 orang dengan range kelahiran dari 1986-1988.
Anggotanya punya nama stage yang menurut gw aneh banget LOLs. Adalah Hero Yongwoong Jaejoong, U-Know Yunho, Micky Yoochun, Xiah Junsu, dan Max Choikang Changmin.
Debut pertama kali tahun 2004, dengan single Hug dengan MV (Music Video) paling jenaka sepanjang abad.
Singkat cerita mereka udah ngeluarin 4 album Korea dan 4 album Jepang. Belom single-singlenya yang bejibun ampe males ngapalin.
Kalo penasaran ama diskografinya liat aja dih di sini, males gw nyebutinnya LOLs.
Sekarang tuh grup lagi Hiatus, karena masalah kontrak mengontrak yang ganggu banget kata gw. 3 dari anggota grup mutusin lepas dari agensi mereka, en ngebentuk JYJ.

Okeh, itu preview soal mereka. sekarang gw kasih tau yah opini gw ke mereka. Mereka adalah 5 orang multitalenta yang dikumpulin lewat takdir. Mereka ditraining hampir 6 taun, supaya performanya bagus dan bener-bener ngelewatin audisi yang super ketat. JADI GAK ADA ALASAN NGATAIN MEREKA GAK BERBAKAT.
Yah emang appearance sebagian besar cowok Korea emang cantik, dan mereka termasuk dalam daftar 꽃미남 alias cowok cantik. Gw gak peduli mereka dibilang banci etc, toh buktinya mereka emang adorable bangettttttt. Buat temen-temen yang selalu ngatain mereka, awas ntar kalo udah kenal sama mereka bakalan jatuh cinta!

Dari semua lagu TVXQ! lagu favorit gw adalah 넌 언제나 alias You Always. Ini lagu dari album debut mereka dan langsung baut gw jatuh cinta berat ama mereka sampe sekarang.

Kesimpulan : GW CINTA MATI AMA TVXQ! SAMPE BERUBAN SEKALIPUN!

  • Cassiopeia dan warna merah
Nah, kalo udah naksir sama 5 cowok yang super adorable banget ini pasti ngaku dah sebagai bagian dari fanbase mereka yang bernama Cassiopeia. Kenapa ini fanbase namanya mirip ama salah satu konstelasi bintang utara? dan identik dengan yang merah-merah? Karena:
  1. Rasi Cassiopeia terdiri dari 5 bintang utama, persis kayak uri TVXQ yang terdiri dari 5 orang. Jadi menekankan tanpa 5 orang itu gak ada TVXQ dan gak ada Cassiopeia a.k.a kita ini.
  2. Cekidot kalian punya Keyboard. Liat susunan TVfXQ di sana, ngebentuk rasi Cassiopeia kan? dengan pola W-nya yang legendaris.
  3. Merah dalam budaya timur artinya keberuntungan dan warna dewa. Literari nama mereka ada Dewa, jadi yah diidentikan dengan warna merah.
Jadi itulah alesannya ^^


Ntar gw lanjutin ini posting, nah gw kasih nih foto paling keren dari TVXQ!

TVfXQ SOUL, ALWAYS KEEP THE FAITH, HOPE TILL THE END

Rabu, 16 Desember 2009

Sturgeon


Sturgeon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sturgeon adalah nama umum dari 26 spesies dalam famili Acipenseridae, termasuk genus Acipenser, Huso, Scaphirhynchus, dan Pseudoscaphirhynchus. Sturgeon adalah famili ikan bertulang tertua yang masih hidup, mereka hewan asli sungai, danau, dan pantai di subtropis, iklim sedang, dan subarktik sepanjang Eurasia dan Amerika Utara. Mereka memiliki tubuh yang panjang dengan sisik yang sangat sedikit dan ukuran yang lumayan besar. Range ukuran sturgeon dari 2 - 3,5 m panjangnya dan beberapa spesies dapat tumbuh hingga 5,5 m. Kebanyakan sturgeon adalah anadromous, bertelur di arus sekitar delta sungai dan estuari. Sementara spesies yang sepenuhnya berada di air tawar, jarang sekali mengunjungi lautan terbuka dan area pantai.

Beberapa spesies sturgeon dipanen untuk telurnya, yang dipakai untuk membuat kaviar, makanan mewah yang sangat berharga untuk dijadikan subjek penangkaran ikan. Karena mereka sangat lambat dalam berkembang dan menjadi dewasa, mereka sangat rentan terhadap eksploitasi dan ancaman lainnya, termasuk polusi dan fragmentasi habitat. Kebanyakan spesies dinyatakan berstatus rentan, terancam, atau kritis.

Karakteristik fisik

Bersama dengan anggota Chondrostei lainnya, sturgeon memiliki kartilago, sedikit sekali memiliki ciri-ciri vertebrata, dan diselimuti oleh lapisan bertulang yang disebut scute, bukan sisik. Mereka juga memiliki empat helai "kumis" yang muncul di mulut mereka yang tanpa gigi, umumnya digerakkan sepanjang dasar sungai untuk mendeteksi keberadaan mangsa. Sturgeon dapat dikenali dengan tubuhnya yang panjang, rostra yang rata, scute yang unik, dan kumsinya.

Mereka hidup di area bentik, mengaduk dasar perairan dengan mulutnya, dan menggunakan kumisnya untuk mendeteksi keberadaan kerang, crustacea, dan ikan kecil yang merupakan mangsa mereka. Mereka tidak memiliki gigi, mereka tidak mempu mengunyah mangsa. Namun spesies yang besar mampu menelan mangsa yang sangat besar, bahkan seluruh bagian tubuh salmon dan bayi anjing laut.

Di antara ikan terbesar dari Sturgeon adalah beluga (Huso huso) di Laut Kaspia, dilaporkan mampu tumbuh hingga 5,5 m dengan massa 2000 kg, sementara kaluga (Huso dauricus) dari sungai Amur memiliki panjang yang sama dengan massa 1000 kg. Mereka diperkirakan merupakan ikan yang memiliki usia tertua, beberapa mencapai usia kematangan seksual di usia 20 tahun dan mampu hidup hingga usia 100 tahun. Kombinasi dari lambatnya perkembangan hidup dan rata-rata reproduktif dan harga yang tinggi bagi sturgeon betina dewasa yang mampu bertelur membuat sturgeon sangat rentan terhadap overfishing.

Pulau Jeju

Jeju

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Jeju
Lokasi
Lokasi Jeju di Korea Selatan
Nama bahasa Korea
Hangul: 제주특별자치도
Hanja: 濟州特別自治道
Alihaksara Baru: Jeju Teukbyeol Jachi-do
McCune-Reischauer: Cheju T'ŭkpyŏl Chach'ido
Data dan statistik(2004
Luas: 1 845,55km²
Penduduk: 560 000 jiwa
Kepadatan: jiwa/km²
Pemb. administratif: 2 si
ISO 3166-2:
Situs resmi: http://www.cyber.jeju.go.kr/
Danau krater di Pulau Jeju

Pulau Jeju atau Cheju (Hanja 濟州特別自治道, Jeju Teukbyeol Jachido), adalah pulau yang terletak di ujung semenanjung Korea dan sangat dekat dengan Jepang.

Pulau Jeju atau Jeju-do dalam bahasa Korea, adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus (special self-governing province) di Korea Selatan. Pulau Jeju terletak di Selat Korea sebelah baratdaya Provinsi Jeollanam-do, yang dahulunya merupakan satu provinsi yang sama sebelum terpisah pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Jeju City.

Pulau Jeju adalah pulau wisata paling terkenal di Korea, bahkan orang Korea menyebut dengan istilah "Pulau Bali"-nya Korea. Di Pulau tersebut terdapat Gunung Halla, yaitu gunung tertinggi di Korea Selatan. Pulau Jeju merupakan wilayah yang paling hangat dan pada musim dingin sangat jarang turun salju, sehingga tanaman-tanaman yang biasanya tumbuh di daerah subtropis bisa bertahan hidup.

Bahasa Korea dangan dialek (saturi) Jeju adalah bahasa yang sangat khas, yang hampir mirip dengan bahasa Jepang. Hal ini dikarenakan hubungan kebudayaan dan sejarah masa lalu yang erat antara kedua wilayah tersebut.

Provinsi kembar

Jeju memiliki provinsi atau negara bagian kembar yang juga merupakan pulau, yaitu: Hainan (Republik Rakyat Cina), Hawaii (Amerika Serikat), Sakhalin (Russia), dan Bali (Indonesia).

Niccolò Machiavelli

Niccolò Machiavelli (lahir di Florence, Italia, 3 Mei 1469 – meninggal di Florence, Italia, 21 Juni 1527 pada umur 58 tahun) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans. Dua bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Pangeran), awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum dalam berpolitik di masa itu.

Il Principe, atau Sang Pangeran menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, untuk menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis.

Karya-karya Machiavelli tidak hanya di bidang politik, tetapi juga sejarah, yaitu; History of Florence, Discourse on the First Decade of Titus Livius, a Life of Castruccio Castrancani, dan History of the Affair of Lucca. Di bidang kesusasteraan, dia pernah menulis suatu tiruan dari the Golden Ass of Apuleius, the play Mandragola, serta Seven Books on the Art of War. Tentu saja diantara karya-karyanya yang paling banyak dikenal adalah The Prince (1932). Isu utama dalam buku ini adalah bahwa semua tujuan dapat diusahakan untuk membangun dan melestarikan kekuasaan sebagai tujuan akhir yang dapat dibenarkan. Dan seburuk-buruknya tindakan pengkhianatan adalah penguasa yang dijustifikasi oleh kejahatan dari yang diperintah. The Prince dinyatakan terlarang oleh Paus Clement VIII. Selengkapnya karya-karya Machiavelli dalam bahasa Italia meliputi; Discorso sopra le cose di Pisa (1499), Del modo di trattare i popoli della Valdichiana ribellati (1502), Del modo tenuto dal duca Valentino nell’ ammazzare Vitellozo Vitelli, Oliverotto da Fermo (1502), Discorso sopra la provisione del danaro (1502), Decennale primo (1506 poema in terza rima), Ritratti delle cose dell’Alemagna (1508-1512), Decennale secondo (1509), Ritratti delle cose di Francia (1510), Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (1512-1517), Il Principle (1513), Andria (1517), Mandragola (1518), Della lingua (1514), Clizia (1525), Belfagor arcidiavolo (1515), asino d’oro (1517), Dell’arte della guerra (1519-1520), Discorso sopra il riformare lo stato di Firenze (1520), Sommario delle cose della citta di Lucca (1520), Vita di castruccio Castracani da Lucca (1520), Istorie fiorentine (1520-1525), dan Frammenti storici (1525).

Karya-karya Machiavelli mengakibatkan banyak pihak yang menempatkannya sebagai salah satu pemikir brilian pada masa renaissance, sekaligus figur yang sedikit tragis. Pemikiran Machiavelli berkembang luas pada abad ke-16 dan ke-17 sehingga namanya selalu diasosiasikan penuh liku-liku, kejam, serta dipenuhi keinginan rasional yang destruktif. Tidak ada pemikir yang selalu disalahpahami dari pada Machiavelli. Kesalahpahaman tersebut terutama bersumber pada karyanya yang berjudul The Prince yang memberikan metode untuk mendapatkan dan mengamankan kekuasaan politik. Selain itu, juga terdapat karya lain yang banyak menjadi rujukan yaitu Discourses on the Ten Books of Titus Livy.

Terdapat tiga pandangan berbeda terhadap Machiavelli dilihat dari karya-karyanya. Pandangan pertama, menyatakan bahwa Machiavelli adalah pengajar kejahatan atau paling tidak mengajarkan immoralism dan amoralism. Pandangan ini dikemukakan oleh Leo Strauss (1957) karena melihat ajaran Machiavelli menghindar dari nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, serta cinta, dan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan.

Pandangan kedua, merupakan aliran yang lebih moderat dipelopori oleh Benedetto Croce (1925) yang melihat Machiavelli sekadar seorang realis atau pragmatis yang melihat tidak digunakannya etika dalam politik. Padangan ketiga yang dipelopori oleh Ernst Cassirer (1946), yang memahami pemikiran Machiavelli sebagai sesuatu yang ilmiah dan cara berpikir seorang scientist. Dapat disebutkan sebagai “Galileo of politics” dalam membedakan antara fakta politik dan nilai moral (between the facts of political life and the values of moral judgment).

Inovasi Machiavelli dalam buku Discourses on Livy dan The Prince adalah memisahkan teori politik dari etika. Hal itu bertolakbelakang dengan tradisi barat yang mempelajari teori politik dan kebijakan sangat erat kaitannya dengan etika seperti pemikiran Aristoteles yang mendefinisikan politik sebagai perluasan dari etika. Dalam pandangan barat, politik kemudian dipahami dalam kerangka benar dan salah, adil dan tidak adil. Ukuran-ukuran moral digunakan untuk mengevaluasi tindakan manusia di lapangan politik. Saat itu, Machiavelli telah menggunakan istilah la stato, yang berasal dari istilah latin status, yang menunjuk pada ada dan berjalannya kekuasaan dalam arti yang memaksa, tidak menggunakan istilah dominium yang lebih menunjuk pada kekuasaan privat.

Buku-buku abad pertengahan memberikan kepercayaan bahwa penggunaan kekuasaan politik hanya dibenarkan jika dimiliki oleh orang-orang yang memiliki karakter memenuhi nilai-nilai luhur. Jika pemegang kekuasaan menginginkan kedamaian dan tetap menduduki jabatannya, harus bertindak sesuai dengan standar kebaikan dan etika. Mereka hanya akan dipatuhi sepanjang menunjukkan pemenuhan nilai-nilai moral.

Adalah Machiavelli yang pertama kali mendiskusikan fenomena sosial politik tanpa merujuk pada sumber-sumber etis ataupun hukum. Inilah pendekatan pertama yang bersifat murni scientific terhadap politik. Bagi Machiavelli, politik hanya berkaitan dengan satu hal semata, yaitu memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Hal lainnya, seperti agama dan moralitas, yang selama ini dikaitkan dengan politik sesungguhnya tidak memiliki hubungan mendasar dengan politik, kecuali bahwa agama dan moral tersebut membantu untuk mendapat dan mempertahankan politik. Keahlian yang dibutuhkan untuk mendapat dan melestarikan kekuasaan adalah perhitungan. Seorang politikus mengetahui dengan benar apa yang harus dilakukan atau apa yang harus dikatakan dalam setiap situasi.

Machiavelli mengakui bahwa hukum yang baik dan tentara yang baik merupakan dasar bagi suatu tatatan sistem politik yang baik. Namun karena paksaan dapat menciptakan legalitas, maka dia menitikberatkan perhatian pada paksaan. Karena tidak akan ada hukum yang baik tanpa senjata yang baik, maka Machiavelli hanya akan membicarakan masalah senjata. Dengan kata lain, hukum secara keseluruhan bersandar pada ancaman kekuatan yang memaksa. Otoritas merupakan hal yang tidak mungkin jika terlepas dari kekuasaan untuk memaksa. Oleh karena itu, Machiavelli menyimpulkan bahwa ketakutan selalu tepat digunakan, seperti halnya kekerasan yang secara efektif dapat mengontrol legalitas. Seseorang akan patuh hanya karena takut terhadap suatu konsekuensi, baik kehilangan kehidupan atau kepemilikan. Argumentasi Machiavelli dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa politik secara keseluruhan dapat didefinisikan sebagai supremasi kekuasaan memaksa. Otoritas adalah suatu hak untuk memerintah.

Dalam the Prince digambarkan cara-cara agar seorang individu dapat memperoleh dan mempertahankan kekuasaan negara. Situasi sosial dan politik dalam buku tersebut dilukiskan dalam kondisi yang sangat tidak dapat diprediksi dan mudah berubah. Hanya orang hebat dengan pikiran penuh perhitungan yang dapat menaklukkan kondisi sosial politik tersebut. Penolakan Machiavelli terhadap penghakiman etis dalam politik mengakibatkan pemikirannya disebut sebagai pemikiran renaisance yang anti-Christ.

Citra Machiavelli yang menentang kekuasaan gereja juga terlihat dalam buku the Discourse yang secara jelas menyatakan bahwa bahwa Kristianitas konvensional melemahkan manusia dari kekuatan yang diperlukan untuk menjadi masyarakat sipil yang aktif. Dalam the Prince juga terdapat penghinaan, disamping penghormatan, terhadap kondisi gereja dan kepausan pada saat itu. Pandangan-pandangan Machiavelli mengakibatkan beberapa penulis seperti Sullivan (1996) dan Anthony Parel (1992) berpendapat bahwa Machiavelli adalah penganut agama pagan seperti masyarakat Romawi kuno.

Untuk memahami pemikiran Machiavelli, negara tidak boleh dipikirkan dalam kaca mata etis, tetapi dengan kaca mata medis. Pada saat itu, Italia sedang menderita dan menyedihkan, sedangkan Florentine dalam bahaya besar. Untuk itu negara harus dibuat menjadi kuat bukan dengan pendekatan etis tetapi medis. Rakyat yang berkhianat harus diamputasi sebelum menginfeksi seluruh negara (seditious people should be amputated before they infect the whole state). Machiavelli melihat politik seperti kondisi medan perang yang harus ditaklukkan.

Nilai (virtú), dalam bahasa Machiavelli dipahami sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan keinginannya dalam situasi sosial yang berubah melalui kehendak yang kuat, kekuatan, serta perhitungan dan strategi yang brilliant. Bahkan, untuk mendapatkan cinta seorang perempuan (Fortune), seorang raja yang idela tidak meminta atau memohon, tetapi mengambilnya secara fisik dan melakukan apapun yang dia mau. Skandal tersebut melambangkan potensi manusia yang sangat kuat di lapangan politik.

Virtú, dalam konsepsi Machiavelli adalah kualitas personal yang dibutuhkan oleh seorang raja untuk mengelola negaranya dan meningkatkan kekuasaannya. Raja harus memiliki kualitas virtú yang paling tinggi, bahkan jika dibutuhkan untuk dapat bertindak sangat jahat. Untuk dapat menjadi seseorang yang memiliki kualitas virtú, raja harus bersifat fleksibel (flexible disposition). Orang yang sesuai untuk memegang kekuasaan menurut Machiavelli adalah seseorang yang dapat melakukan berbagai tindakan dari yang baik hingga yang buruk. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan Virtú adalah segala hal yang terkait dengan kekuasaan. Penguasa Virtú dituntut untuk memiliki kompetensi menjalankan kekuasaan. Memiliki Virtú berarti memiliki kemampuan atas segala aturan yang terkait dengan menjalankan kekuasaan secara efektif. Virtú adalah kekuasaan politik.

Konsepsi lain yang menghubungkan antara Virtú dengan pelaksanaan kekuasaan yang efektif adalah Fortuna. Fortuna adalah musuh dari tatanan politik, merupakan ancaman bagi keselamatan dan keamanan negara. Penggunaan konsep fortuna ini menimbulkan banyak perdebatan. Secara konvensional, fortuna diartikan sebagai keramahan, sesuatu yang lunak dan tidak berbahaya, tetapi juga sifat ketuhanan yang berubah-ubah sebagai sumber dari kebaikan sekaligus keburukan manusia. Sedangkan Machiavelli mengartikan fortuna sebagai kedengkian dan sumber kesengsaraan manusia yang tidak dapat ditoleransi (uncomprommising fount of human misery), penderitaan, dan musibah. Jika fortuna menentukan kemajuan yang dicapai umat manusia, maka tidak ada seorangpun yang dapat bertindak secara efektif berhadapan dengan ketuhanan.

Dia menggambarkan fortuna menyerupai “satu dari sungai kita yang merusak, yang pada saat marah akan mengubah daratan menjadi danau, meruntuhkan pohon dan bangunan, mengambil dunia dari satu titik dan meletakkannya pada titik lain; semua orang melarikan diri sebelum banjir; semua orang marah dan tidak ada yang dapat menolak” (one of our destructive rivers which, when it is angry, turn the plains into lakes, throws down the trees and buildings, takes earth from one spot, puts it in another; everyone flees before the flood; everyone yields to its fury and nowhere can repel it). Kemarahan dan musibah tersebut tidak berarti berada di luar kekuasaan manusia. Sebelum hujan tiba, masih mungkin untuk melakukan sesuatu untuk mengalihkan atau mengubah konsekuensinya. Gambaran tersebut dikemukanan oleh Machiavelli untuk menyatakan bahwa fortuna dapat diatasi oleh manusia, namun harus dengan persiapan dengan Virtú dan kebijakan.

Kesuksesan politik bergantung kepada apresiasi berjalannya fortuna. Pengalaman Machiavelli mengajarkan bahwa adalah lebih baik bergerak cepat (impetuous) dari pada berhati-hati, karena fortuna adalah seorang perempuan dan diperlukan untuk menempatkannya di bawah kita, mengacaukan dan menganiayanya. Dengan kata lain, fortuna menuntut respon kekerasan dari mereka yang hendak mengontrolnya.

Jika buku the Prince banyak menimbulkan perdebatan, maka tidak demikian halnya dengan buku the Discourses on the Ten Books of Titus Livy yang oleh banyak ahli dipandang mewakili komitmen dan kepercayaan politik pribadi Machiavelli, khususnya terhadap republik. Dalam semua karyanya, secara konsisten Machiavelli membagi tatanan kehidupan sipil dan politik menjadi yang bersifat minimal dan yang penuh yang mempengaruhi pencapaian kehidupan bersama.

Tatanan konstitusional yang minimal adalah di mana subyek hidup dengan aman (vivere sicuro), diatur oleh pemerintah yang kuat yang senantiasa mengawasi perkembangan bangsawan dan rakyatnya, namun diimbangi dengan mekanisme hukum dan institusional lainnya. Sedangkan tatanan konstitusional yang penuh, tujuan tatanan politik adalah untuk kebebasan masyarakat (vivere libero) yang diciptakan secara aktif oleh partisipasi dan interaksi antara kaum bangsawan dan rakyat.

Selama kariernya sebagai sekretaris dan diplomat pada Republik Florentine, Machiavelli mendapatkan pengalaman di lingkungan inti pemerintahan Perancis yang menurut pandangannya adalah model konstitusional minimal (the “secure” [but not free] polity). Machiavelli melihat kerajaan Perancis dan Rajanya memiliki dedikasi terhadap hukum. Dia menyatakan bahwa kerajaan Perancis merupakan kerajaan yang pada saat itu paling baik pengaturan hukumnya. Raja Perancis dan para bangsawan yang berkuasa dikontrol oleh aturan hukum yang dilaksanakan oleh otoritas independen dari parlemen. Oleh karena itu, kesempatan adanya tindakan tirani yang tak terkendali dapat dieliminasi.

Bagaimanapun bagusnya penataan dan kepatuhan hukum dalam rezim yang demikian, menurut pandangan Machiavelli tidak sesuai dengan vivere libero. Sepanjang terdapat kehendak publik untuk mendapatkan kebebasannya, raja yang tidak dapat memenuhinya harus meneliti apa yang dapat membuat mereka menjadi bebas. Dia menyimpulkan bahwa beberapa individu menginginkan kebebasan hanya untuk dapat memerintah yang lain. Sebaliknya, sebagian besar mayoritas rakyat mengalami kebingungan antara kebebasan dan keamanan, membayangkan bahwa keduanya adalah identik. Namun ada juga yang menginginkan kebebasan untuk tujuan hidup dengan aman (vivere sicuro).Machiavelli kemudian menyatakan bahwa rakyat hidup dengan aman (vivere sicuro) tanpa alasan lain dibanding dengan rajanya yang terikat hukum guna memberikan keamanan bagi seluruh rakyat. Karakter kepatuhan terhadap hukum dari rezim Perancis adalah untuk memastikan keamanan, namun keamanan tersebut jika diperlukan tidak boleh dicampurkan dengan kebebasan. Inilah batasan dari aturan dari monarkhi, bahkan untuk kerajaan yang paling baik, tidak akan dapat menjamin rakyatnya dapat diperintah dengan tenang dan terti

Selasa, 15 Desember 2009

Capricorn and Cancer

The Tropic of Capricorn, or Southern tropic, is one of the five major circles of latitude that mark maps of the Earth. It lies 23° 26′ 22″ south of the equator, and marks the most southerly latitude at which the sun can appear directly overhead at noon. This event occurs at the December solstice, when the southern hemisphere is tilted towards the sun to its maximum extent.

The Tropic of Cancer, or the Northern tropic, is one of five major degree measures or major circles of latitude that mark maps of the Earth. It is the northmost latitude at which the sun can appear directly overhead at noon. This event occurs at the June solstice, when the northern hemisphere is tilted towards the sun to its maximum extent.

New Caledonia

Ecology

"Baie des Tortues" (Turtle Bay) near "La roche percée" (Pierced Rock) at Bourail in New Caledonia

New Caledonia is considered one of the world's most botanically-important and critically endangered hotspots. Unlike many of the Pacific Islands, which are of relatively recent volcanic origin, New Caledonia is part of Zealandia, a fragment of the ancient Gondwana super-continent. Zealandia separated from Australia 60–85 million years ago,[16] and the ridge linking New Caledonia to New Zealand has been deeply submerged for millions of years. This isolated New Caledonia from the rest of the world's landmasses, and made it a Noah's Ark of sorts, preserving a snapshot of prehistoric Gondwanan forests. The country still shelters an extraordinary diversity of unique, endemic, and extremely primitive plants and animals of Gondwanan origin, as well as the second largest coral reef in the world.[citation needed]

In the past, New Caledonia's wildlife was even more ancient, almost resembling throwbacks to the Mesozoic. New Caledonia was inhabited by Meiolania, a gigantic turtle resembling a dinosaur ankylosaur the size of a car. Another inhabitant of New Caledonia was Sylviornis, a huge bird with a long, reptilian tail that resembles a dinosaur, probably most closely resembling the oviraptors. The dominant predators of New Caledonia were mekosuchine crocodiles, specifically Mekosuchus. These crocs resembled armored, quadrupedal theropod dinosaurs, and fossil remains suggest they were terrestrial and partly arboreal. All of these creatures died out when humans arrived on New Caledonia.

The endemic Kagu bird

Although the majority of the country's citizens are unaware of the extraordinary nature of their country's biological heritage,[citation needed] a few of the country's animals and plants have become somewhat emblematic in local culture. Among the best known is a hen-sized, flightless bird, commonly-known as the Cagou or Kagu, which has a large crest and an odd barking call. Its song and image are frequently seen as nationally-recognized icons. Another commonly used cultural emblem is the Columnar or Cook's Pine (Araucaria columnaris), an important symbol in Kanak culture. The Niaouli tree (also native to Australia and New Guinea), is of medicinal interest, locally and abroad. Its sap (which contains gomenol, a camphor-smelling compound), is used to treat head colds, and as an antiseptic. It also shows potential to treat other medical ailments. Before the Europeans arrived, there was no mammal other than the Roussette (aka flying fox), a large vegetarian bat, considered a local delicacy. Less well-known by the native population is the fact their country is home to a species of plant, (Amborella trichopoda), believed to be genetically close to the ancestor of all flowering plants, or the fact their nation boasts the largest number and diversity of conifer species in the world, per unit of geographic area (a remarkable fact, given that conifers are usually relatively rare in tropical regions).

Typical terrain in the south of the islands at Grand Terre
Official emblem (Nautilus)

The islands contain two precipitation zones: Higher-rainfall areas (located on the Loyalty Islands, Isle of Pines (Île des Pins), and on the eastern side of Grande Terre) which support New Caledonia rain forests, and a more arid region, home to the now exceedingly-endangered New Caledonia dry forests, located in the rain shadow on the western side of Grande Terre. Europeans settled on the dry west coast of Grande Terre, leaving the east (as well as the Loyalty Islands and the Isle of Pines) to the Kanaks, and resulting in an ethno-cultural division which coincides with the natural one. Extensive farming by Europeans in the dry forest areas, has caused these forest ecosystems to virtually disappear.

It is a vast oversimplification, however, to merely describe New Caledonia's extremely important, complex and diverse ecology in terms of precipitation zones. Species and ecological diversity is further complicated by soil type (degree and type of mineralization), altitude, and geographic location (for instance, Loyalty Islands and Isle of Pines have flora that is distinct from Grande Terre).

In addition to the remarkable terrestrial environment of New Caledonia, the country is also home to important aquatic ecosystems. Its freshwater ecology also evolved in long isolation, and the New Caledonia rivers and streams are home to many endemic species. Moreover, the New Caledonia Barrier Reef, which surrounds Grande Terre and the Isle of Pines (Île des Pins), is the second-largest coral reef in the world after Australia's Great Barrier Reef, reaching a length of 1,500 kilometres (930 mi). Like its terrestrial counterpart, the Caledonian reef system has great species diversity, is home to endangered dugongs (Dugong dugong), and is an important nesting site for the Green Sea Turtle (Chelonia mydas). The Nautilus is a living-fossil species, common during the age of the dinosaurs, which survives today in the waters surrounding New Caledonia. In January 2002, the French government proposed listing New Caledonia's reefs as a UNESCO World Heritage Site. UNESCO listed New Caledonia Barrier Reef on the World Heritage List under the name The Lagoons of New Caledonia: Reef Diversity and Associated Ecosystems on 7 July 2008.